SELAMAT DATANG DI BLOG RADIO TENGKORAK DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DAN MOHON MAAF APABILA KOMENTAR2 ANDA PADA BLOG INI BELUM DIBALAS KARENA KESIBUKAN RUTINITAS, TAPI AKAN SAYA BALAS SATU PERSATU, MOHON SABAR YA...SALAM TERBAIK

Kamis, 25 Oktober 2012

MEMBUAT ANTENNA DIPOLE ½ LAMBDA




MEMBUAT ANTENNA DIPOLE ½ LAMBDA
By Djoko Haryono

Patokan2 yang biasa saya pakai untuk membuat antenna Dipole ½ panjang gelombang untuk HF adalah sbb. :

1.Antenna dipole memiliki impedansi spesifik ( radiation resistance ) pada terminalnya sebesar ( sekitar ) 72 ohm.

2.Yang disebut impedansi spesifik pada feed point suatu antenna bukanlah nilai impedansi yang terukur pada saat “asal dirikan antenna dan asal ukur” , melainkan nilai khas itu umumnya merupakan hasil pengukuran jika antenna sudah berada / dipasang pada kondisi idealnya , yaitu pada lokasi yang dianggap sebagai FREE SPACE.

Free space adalah suatu lokasi ( umumnya suatu ketinggian dari permukaan tanah ) dimana antenna TIDAK TERLALU DEKAT DENGAN TANAH ATAU BENDA2 DISEKITARNYA.

Free space bagi suatu antenna biasanya berjarak “BEBERAPA LAMBDA”. Artinya antenna harus diposisikan beberapa lambda ( panjang gelombang , sesuai frek. operasinya ) baik dari tanah maupun benda2 asing ataupun bangunan / struktur lain yang bisa mempengaruhi kinerja antenna. Posisi sebuah antenna bisa kita anggap sudah berada pada “free space” nya , jika ketika kemudian antenna tsb. kita tinggikan / naikkan lagi , impedansi terminalnya sudah terukur constant pada frekuensi tersebut ( tidak naik lagi ).

3.Tentu saja dalam praktek kita mungkin kesulitan sehingga tidak ada kewajiban menempatkan antenna kita ( harus ) pada ketinggian free space , namun pengertian ini perlu agar kita memahami apa arti sebenarnya dari “nilai impedansi (spesifik) pada terminal suatu antenna”.

4.Kalau diatas disebut “beberapa lambda” itu dikarenakan nilainya tidak selalu sama. Ada lokasi dimana jarak 4 lambda sebuah antenna baru berada pada free spacenya , tetapi ada juga ditempat lain dimana antenna yang sama sudah menemukan free spacenya hanya pada ketinggian 2 lambda saja dari tanah. Kondisi struktur, konduktivitas , kelembaban tanah bisa berbeda beda disatu dan lain wilayah. Untuk diskusi ini , kita misalkan ( anggap ) saja ditempat anda free space untuk 11 meterband ( 27 MHz ) adalah 2 lambda , maka pada ketinggian 22 meter atau lebih diatas tanah , impedansi terminal antenna dipole anda akan terukur 72 ohm.

5. Pada ketinggian antenna yang “LEBIH RENDAH DARI FREE SPACE SETEMPAT” ( artinya ketinggian antenna belum berada pada free space ) , impedansi terminal sebuah antenna dipole bisa acak / bervariasi. Umumnya diantara 40 s/d 130 ohm tergantung kondisi tanah yang ada maupun ketinggian yang dipilih.

6.Kalau ketinggian dipole anda yang 22 meter dari tanah tsb. sudah pada area free space bagi frek. tsb. Maka bila anda menggunakan coax 50 ohm ( dan panjang dipole yang anda buat sudah tepat / resonan pada frek yang anda inginkan ) , maka impedansi antenna anda yang 72 ohm itu akan “menghasilkan” penunjukan SWR meter pada nilai 1.44 : 1.
Untuk HF nilai SWR meter ini sudah cukup bagus. Umumnya untuk HF , SWR masih dianggap aman jika nilainya tidak lebih dari 1.9 : 1

7.Jadi kalau panjang antenna anda ( sebetulnya ) sudah resonan pada frek. Yang anda inginkan , jangan terlalu mengkhawatirkan SWR yang 1,4 : 1 tersebut. Tidak perlu anda paksakan untuk menurunkannya sampai ke 1 : 1 dengan cara memendekkan ( terus menerus ) dipole anda karena salah2 malah antenna anda pindah frek. resonansinya dan “keluar” dari frek. yang sebenarnya anda inginkan tanpa anda sadari ( meskipun SWR nya akhirnya menunjuk yang terendah ).

Lain ceritanya bila dipolenya tetap anda biarkan pada panjang resonansnya , lalu SWR 1.4 : 1 itu anda turunkan ke 1 : 1 dengan menambahkan matching transformer yg memiliki impedansi karakteristik 60 ohm ( dari hasil hitungan Z transformer = akar ( 72 x 50 ). Maka selain SWR anda berada pada titik optimumnya effisiensinya ( terendah ), dipole anda juga tetap berada tepat pada frekuensi resonansinya.

8.Bagaimana membuat dipole ½ lambda untuk HF ?
Uraiannya saya perinci berikut ini :

9.Bahan radiator ( konduktor ) yang diameternya kecil ( misalnya kawat tembaga diameter 1 mm seperti yang dipakai salah satu rekan kita tsb ) memiliki keuntungan karena antenna tsb. Menjadi lebih ringan. Namun ada juga kerugiannya. Diameter yg. terlalu kecil menjadikan bandwidthnya sempit.

Umumnya ukuran yang dianggap “kompromistis” ( bandwith lebar, antenna cukup kuat namun tidak terlalu berat adalah penghantar berupa kabel ( kabel serabut / berurat banyak ) ukuran 14. Ukuran ini bahkan masih cukup kuat untuk beban panjangnya sebuah dipole ( sampai ) 80 meterband.

10.Rumus panjang dipole ½ lambda YANG DIPASANG PADA FREE SPACE ( KETINGGIAN YANG CUKUP TINGGI ) :

L ( dalam feet ) = 492 : freq. ( MHz )

atau L ( dalam meter ) = 149,9616 : freq. ( MHz ).

11.Tetapi jika antenna dipole anda akan anda pasang pada ketinggian yang relatip rendah ( lebih rendah dari free space ), maka Rumus yang anda pakai perlu di modifikasi menjadi :

L ( dalam feet ) = 468 : freq. ( dalam MHz )

atau L ( dalam meter ) = 142,646 : freq. ( MHz ).

12. Selamat mencoba.


Salam , Djoko Haryono.

REPEATER YANG MENGGUNAKAN 1 FREKUENSI (SIMPLEX)





REPEATER YANG MENGGUNAKAN 1 FREKUENSI ( SIMPLEX )
By Djoko Haryono

Dalam posting comment tgl. 23 Okt.2012 dibawah topik “Menghitung dB & EIRP antenna” ( posting pertama 29 Sept. 2012 ) saya ada sedikit menyinggung tentang …… “repeater yang menggunakan 1 frekuensi” …. dst.

Masih banyak diantara kita yang masih asing dengan / pada kalimat “repeater yang menggunakan 1 frekuensi” tsb. Untuk itu –hanya bagi yang belum mengenal saja- saya berikan sedikit penjelasan sbb.:

Selama ini di Indonesia yg.umum kita kenal adalah repeater jenis duplex yg. mengggunakan 2 frekuensi berbeda ( 1 untuk uplink atau input repeater dan 1 frekuensi lainnya untuk downlink atau output repeater ).
Praktis hampir semua ( atau semua ) radio repeater ( VHF atau UHF ) kita menggunakan sepasang ( 2 bh ) frekuensi.

Namun sebuah repeater juga bisa dibangun hanya dengan menggunakan 1 bh. frekuensi saja yang sekaligus menjadi frekuensi input maupun outputnya. Repeater jenis ini biasa disebut sebagai :
a. Store and Forward ( S&F / SNF / SAF ) repeater, atau
b. Echo repeater ( echo station ) , atau
c. Simplex repeater.

Repeater type ini banyak digunakan di sejumlah Negara. Di Amerika jumlahnya cukup signifikan.
Konfigurasi dasar/minimal dari Store and Forward repeater adalah terdiri dari 1 bh. Transceiver ( bisa sebuah HT ataupun Rig ) , 1 alat atau rangkaian perekam suara ( recorder / voice memory ) atau perekam data jika repeaternya adalah sebuah Data Sore & Forward Repeater , dan rangkaian controller.

Secara garis besar , kerja sebuah repeater simplex adalh sbb. :
Setelah bagian receivernya menerima / mendeteksi adanya “message”/transmisi yang diterima , controllernya akan bekerja dan langgsung “menugaskan” recorder untuk merekam berita yang masuk. Panjang ( lama ) message yang masuk selalu dibatasi ( misalnya max. 2menit ). Maka pengguna repeater harus menghentikan transmisinya sebelum waktu cut-0ff tsb. Tahap berikutnya adalah bagian Tx nya mulai memancar dengan modulasi yang berisi suara ( atau data ) yang tadi sudah disimpan itu. Pancaran repeater ini tetap menggunakan frekuensi yang sama dengan frekuensi bag. Penerima tadi.

Demikianlah repeater bekerja pada 1 frekuensi ( simplex ). Karena repeater dipasang pada lokasi yang tinggi ( gunung / puncak bukit atau menara yang tinggi ) maka coveragenya pada prinsipnya adalah sama dengan coverage repeater duplex.

Meski repeater simplex juga ada yang memiliki power pancaran yang besar , namun lebih banyak repeater jenis ini yang memiliki power yg relative kecil ( 10 watt , bahkan hanya 5 atau 6 watt dengan menggunakan HT sebagai repeaternya ). Penggunaan power kecil tersebut sekaligus akan memperkuat & mempertegas status repeater store & forward yang dikenal sebagai jenis repeater yang “sangat portable dan bisa dengan sangat cepat dipasang dan dioperasikan”.

Repeater jenis ini sangat ideal ( dan sebaiknya ) dimiliki / digunakan oleh tim SAR dan para evakuator / petugas penolong pada kejadian2 darurat atau bencana alam. Repeater store and forward tidak hanya bisa dioperasikan menggunakan accu kecil namun juga banyak jenis yang bisa langsung cepat “mengudara” hanya dengan menggunakan tenaga battery HT nya.

Pada penggunaan repeater S&F , setiap operator ( mobile maupun fixed station ) yang menggunakan repeater tsb. akan bisa “mendengarkan suaranya sendiri” yang sedang “diputar ulang” oleh repeater ( repeater sekarang tidak menggunakan tape recorder lagi melainkan semuanya sudah memakai alat perekam digital ).

Kekurangan utama dari repeater ini adalah ia membutuhkan waktu untuk berkomunikasi yang lebih panjang / lama dibandingkan dengan duplex repeater.
Namun repeater Store and Forward tetap memiliki “kelebihan2” tersendiri ( bahkan yang modern memiliki berbagai fiture yang makin lengkap misalnya bisa diprogram untuk bermacam kebutuhan , untuk membacakan pengumuman2 baik yg berkala maupun kontinyu dsb ).
Repeater jenis ini ada yang sangat kecil dan ringkas. Namun ada juga yg. dijual hanya Unit Controller nya saja ( pemilik tinggal menambah / membelikan 1 bh HT atau Rig yang perlu di connect ke controller ) , atau bisa/ada juga yang dijual dalam konfigurasi lain.

BALUN 1 : 1 DAN BALUN 4 : 1

Hallo rekan2 homebrewer, berikut ini saya postingkan beberapa gambar cara membuat lilitan Balun yang saya adopsi dari beberapa sumber di internet.

Bagaimana cara membuat Balun 1 : 1 dan 4 : 1 ?
Silahkan langsung lihat gambarnya saja.

BALUN 1 : 1
Untuk Balun 1 : 1, menggunakan 3 kawat atau disebut trifilar


 












 
Tidak selalu harus menggunakan lilitan trifilar untuk membuat balun 1 : 1
Balun 1 : 1 juga bisa dibuat dari lilitan bifilar seperi gambar berikut dibawah ini






BALUN 4 : 1
Untuk Balun 4 : 1, menggunakan 2 kawat atau disebut bifilar






















Biar tambah jelas mengenai balun ini, kita lihat juga gambar/skematik berikut dibawah ini


Ruthroff (voltage) balun 4 : 1 pada batang ferit (ferit rod)


Ruthroff (voltage) balun 1 : 1 pada batang ferit (ferit rod)


Ruthroff (voltage) balun 4 : 1 pada toroid ring (toroid core)


Ruthroff (voltage) balun 1 : 1 pada toroid ring (toroid core)








Guanella (current) balun 4 :1 pada 2 batang ferit (double ferit rod)


Guanella (current) balun 4 : 1 pada 1 toroid ring (single toroid core)


Guanella (current) balun 4 : 1 pada dua toroid ring (2 toroid core)



Skematik Guinella current balun







Nah...mudah2an setelah banyak melihat gambar2 dan skematik Balun, jadi timbul banyak ide kita untuk membuatnya dengan kreasi lain.

Karena melihat karya orang lain dan melihat juga karyanya homebrewer luar pagar memang perlu untuk lebih meningkatkan wawasan kita sekitar homebrewing.


Happy homebrewing

RF AMPLIFIER MOSFET UNTUK 80 M BAND

Hallo rekan2 Homebrewer, kali ini saya postingkan skematik RF Amplifier untuk 80 Meters Band, yang menggunakan mosfet 4 buah IRFP250.

Mungkin diantara rekan2 homebrewer ada yang berminat utk mencoba merakit booster dengan beberapa mosfet yang di pushpull kemudian digabung/combined dengan menggunakan RF Combiner seperti skematik dibawah ini dari YC3TKM Juhar.





Dan skematik RF Amplifier dibawah ini dari YC2XI Mbah Mangun, yang menggunakan 12 buah mosfet IRFP450.

Sebagai bahan referensi untuk perbandingan proyek2 homebrew kita, terutama proyek RF Amplifier dengan menggunakan mosfet.




Happy homebrewing

Propagasi hari ini